Induksi Persalinan dengan Balon Kateter Folley

July 27, 2020

Salah satu metode induksi persalinan secara mekanik adalah balon kateter foley yang dapat merangsang pematangan serviks, sehingga dapat digunakan pada skor Bishop yang rendah.

Proses persiapan persalinan didahului dengan serviks yang melunak dan menipis atau dikenal dengan pematangan serviks (cervical ripening), dilanjutkan dengan pembukaan serviks. Proses pematangan serviks dapat terjadi secara alami tanpa bantuan dan dapat pula dibantu dengan obat-obatan farmakologi (contoh: sintetik prostaglandin) atau secara mekanik (contoh: kateter foley). Penggunaan oksitosin sebagai induksi tidak dapat efektif pada induksi persalinan dengan skor Bishop yang rendah, yang menandakan serviks belum siap. Pada persalinan seperti ini, induksi yang direkomendasikan pertama adalah pematangan serviks

 

Induksi dengan kateter foley adalah dengan memberikan dilatasi mekanik pada serviks yang kemudian secara alami akan mengeluarkan prostaglandin dari serviks. Penggunaan kateter foley sudah banyak digantikan dengan analog dari prostaglandin, salah satunya adalah misoprostol. 

 

Pertimbangan Penggunaan Kateter Foley sebagai Metode Induksi

Induksi kateter foley memiliki biaya yang relatif murah, reversibilitas (dapat dilepas dengan cepat), dan lebih rendahnya risiko gangguan detak jantung janin dan takisistol[9]. Komplikasi mayor dilaporkan relatif jarang dan komplikasi minor antara lain perdarahan nyeri, ketuban pecah (amniotomi yang tidak disengaja) dan demam juga jarang dilaporkan. Dari 1083 wanita yang menjalani induksi dengan kateter foley dengan infus salin ekstra-amniotik, ditemukan 8.8% mengalami komplikasi:

  • 3% mengalami reaksi demam transien yang akut
  • 2% detak jantung janin yang meragukan
  • 8% perdarahan per vaginam
  • 7% nyeri hebat
  • 3% berubahnya presentasi dari verteks menjadi sungsang[11]

Kesimpulan

Penggunaan balon kateter foley merupakan salah satu metode induksi persalinan yang dapat digunakan pada skor Bishop yang rendah untuk pematangan serviks (cervical ripening). Penggunaan infus salin ekstra-amniotik pada teknik induksi dengan kateter foley lebih menguntungkan dibandingkan dengan teknik kateter foley saja karena dapat menurunkan waktu dari induksi hingga kelahiran.

Induksi dengan kateter foley dibandingkan dengan misoprostol tidak berbeda bermakna dalam jumlah sectio caesarea karena semua penyebab, penggunaan instrumen vaginal saat persalinan, dan kasus gawat janin. Ditemukan induksi dengan kateter foley membutuhkan waktu yang lebih lama.

Penggunaan oksitosin pada kelompok induksi dengan kateter foley lebih banyak dibandingkan dengan kelompok misoprostol yang memperlihatkan bahwa induksi dengan kateter foley tidak banyak mempengaruhi kontraksi sehingga memberikan keuntungan pada janin yang tidak bisa mentoleransi kontraksi.

Bila diperlukan induksi pada kelahiran per vaginam dengan riwayat sectio caesarea (VBAC atau vaginal birth after caesarean section), metode dengan kateter foley lebih rendah risikonya terhadap ruptur dibandingkan dengan metode dengan oksitosin atau prostaglandin.

Induksi kateter foley dapat menjadi pilihan pada induksi untuk ketuban pecah dini.

Induksi kateter foley memiliki biaya yang relatif murah, reversibilitas (dapat dilepas dengan cepat), dan lebih rendahnya risiko gangguan detak jantung janin dan takisistol.

Komplikasi induksi kateter foley jarang dilaporkan, beberapa di antaranya: demam transien, detak jantung janin yang meragukan, perdarahan per vaginam, nyeri hebat dan berubahnya presentasi dari verteks menjadi sungsang.

 

Sumber : www.alomedika.com