CEGAH STUNTING ITU PENTING

December 17, 2019

Anak merupakan aset bangsa di masa depan. Anak sehat, kuat dan cerdas modal untuk membangun bangsa untuk  bersaing  menghadapi tantangan global. Tantangan besar yang dihadapi dalam masalah gizi anak adalah Stunting. Stunting adalah masalah gizi kronis pada balita yang ditandai dengan tinggi badan yang lebih pendek dibandingkan dengan anak seusianya. Anak yang menderita stunting akan lebih rentan terhadap penyakit dan ketika dewasa berisiko untuk mengidap penyakit degeneratif.

Angka stunting dunia pada tahun 2000 yaitu 32,6%, angka ini mengalami penurunan pada tahun 2017 menjadi 22,2% atau sekitar 150,8 juta balita. Angka tersebut 55% balita stunting disumbang dari benua Asia. Berdasarkan data WHO 2005-2017, rata-rata prevalensi balita stunting di Indonesia sebesar 36,4%. Indonesia masuk dalam Negara ketiga dengan prevalensi tertinggi di regional Asia Tengah/South-East Asia Regional (SEAR). 

Faktor-faktor penyebab timbulnya stunting dipengaruhi oleh kondisi kesehatan dan gizi ibu sebelum dan saat kehamilan. Kondisi yang mempengaruhi adalah anemia pada ibu pada saat remaja, postur ibu (pendek), jarak kehamilan terlalu dekat, usia ibu terlalu muda/masih remaja, serta asupan ibu yang kurang saat masa kehamilan. Kondisi bayi baru lahir yang berpengaruh terhadap stunting antara lain tidak terlaksananya inisiasi menyusui dini (IMD), gagalnya pemberian ASI eksklusif, dan proses penyapihan dini. Asupan gizi atau pemberian MP-ASI pada balita sangat penting dalam mendukung sesuai dengan grafik pertumbuhannya agar tidak terjadi gagal tumbuh yang dapat menyebabkan stunting. Kondisi sosial ekonomi dan sanitasi tempat tinggal juga berkaitan dengan terjadi stunting.  Penyakit infeksi seperti diare dan kecacingan apabila diderita dalam jangka waktu lama beresiko besar terhadap kejadian stunting.

Dampak yang ditimbulkan stunting dapat dibagi menjadi dampak jangka pendek dan jangka panjang.

Dampak Jangka Pendek:

  • Peningkatan kejadian kesakitan dan kematian;
  • Perkembangan kognitif, motorik, dan verbal pada anak tidak  optimal
  • Peningkatan biaya kesehatan.

Dampak Jangka Panjang:

  • Postur tubuh yang tidak optimal saat dewasa (lebih pendek dibandingkan pada umumnya);
  • Meningkatnya risiko obesitas dan penyakit lainnya;
  • Menurunnya kesehatan reproduksi;
  • Kapasitas belajar dan performa yang kurang optimal saat masa sekolah; dan
  • Produktivitas dan kapasitas kerja yang tidak optimal.
IBU HAMIL DAN BERSALIN
  1. Intervensi pada 1.000 hari pertama kehidupan;
  2. Mengupayakan jaminan mutu ante natal care (ANC) terpadu;
  3. Meningkatkan persalinan di fasilitas kesehatan;
  4. Menyelenggarakan program pemberian makanan tinggi kalori, protein, dan mikronutrien (TKPM);
  5. Deteksi dini penyakit (menular dan tidak menular);
  6. Pemberantasan kecacingan;
  7. Meningkatkan transformasi Kartu Menuju Sehat (KMS) ke dalam Buku KIA;
  8. Menyelenggarakan konseling Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan ASI eksklusif; dan
  9. Penyuluhan dan pelayanan KB.

BALITA

  1. Pemantauan pertumbuhan balita;
  2. Menyelenggarakan kegiatan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk balita
  3. Menyelenggarakan stimulasi dini perkembangan anak
  4. Memberikan pelayanan kesehatan yang optimal

Remaja

  1. Meningkatkan penyuluhan untuk perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), pola gizi seimbang, tidak merokok, dan mengonsumsi narkoba
  2. Pendidikan kesehatan reproduksi.

 Dewasa Muda

  1. Penyuluhan dan pelayanan keluarga berencana (KB)
  2. Deteksi dini penyakit (menular dan tidak menular)
  3. Meningkatkan penyuluhan untuk PHBS, pola gizi seimbang, tidak merokok/mengonsumsi narkoba.